Kamis, 26 Oktober 2017

KOMPONEN-KOMPONEN PENGEMBANGAN KURIKULUM

Komponen–komponen yang membebtuk sistem kurikulum adalah: komponen tujuan, isi kurikulum, metode atau strategi dan komponen evaluasi. Setiap komponen harus saling berkaitan satu sama lain, manakala tidak berkaitan dengan komponen lainnya, maka sistem kurikulum akan terganggu pula. 1. Komponen Tujuan Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam skala makro rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut oleh masyarakat. Tujuan pemdidikan memiliki klasifikasi, dari mulai tujuan yang paling umum sampai tujuan khusus dan dapat diukur, yang kemudian dinamakan kompetensi. Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi empat yaitu: a. Tujuan Pendidikan Nasional (TPN), adalah tujuan yang bersifat paling umum dan merupakan sasaran akhir yang harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan b. Tujuan Institusional (TI) adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan. Dengan kata lain tujuan ini dapat didefenisikan sebagai kualifikasi yang harus dimiliki oleh setiap siswa setelah menempuh atau dapat menyelesaikan program di suatu lembaga pendidikan tertentu. c. Tujuan Kurikuler (TK) adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran.dapat diartikan sebagai suatu kualifikasi yang harus dimiliki anak didik setelah mereka menyelesaikan suatu bidang studi tertentu dalam suatu lenbaga pendidikan. d. Tujuan Instruksional atau tujuan pembelajaran (TP) kemampuan yang harus dimiliki oleh anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan Toto Ruhimat dkk (Bloom,1965), mengemukakan bahwa “ bentuk prilaku sebagai tujuan yang harus dirumuskan dapat digolongkan ke tiga klasifikasi atau tiga domain yaitu domain kognitif, afektif psikomotor”. a. Domain kognitif Domain kognitif adalah tujuan pendidikan yang berhubungan dengan kemampuan intelektual atau kemampuan berfikir seperti kemampuan mengingat, dan memecahkan masalah. Domain kognitif menurut Bloom terdiri dari 6 tingkatan, yaitu: 1) Pengetahuan (Knowledge) adalah kemampuan mengingat dan kemampuan mengungkap kembali informasi yang sudah dipelajarinya. Kemampuan dalam bidang pengetahuan ini dapat berupa: pertama, pengetahuan tentang terminologi, atau istilah Kedua, pengetahuan tentang prosedur atau cara suatu proses tertentu. 2) Pemahaman (Comprehension) adalah kemampuan untuk memahami suatu objek atau subjek pelajaran. Kemampuan memahami ini bisa merupakan kemampuan menerjemahkan, menafsirkan, atau kemampuan ekstrapolasi. 3) Penerapan (Application) adalah kemampuan untuk menggunakan konsep, prinsip, prosedur pada situasi tertentu. 4) Analisis adalah kemampuan menguraikan atau memecahkan suatu bahan pelajaran kedalam bagian-bagian atau unsure-unsur serta hubungan antara bagian bahan itu. 5) Sintesis adalah kemampuan untuk menghimpun bagian-bagian dalam suatu keseluruhan yang bermakna. 6) Evaluasi adalah tujuan paling tinggi dalam domain kognitif tujuan ini berkenaan dengan kemamapuan membuat penilaian terhadap sesuatu berdasarkan maksud atau kriteria tertentu.Tiga tingkatan tujuan kognitif yang pretama yaitu pengetahuan pemahaman dan aplikasi, dikatakan tujuan kognitif paling rendah sedangkan tiga tingkatan berikutnya analoisis, sintasi, dan evaluasi dikatakan tujuan kognitif yang paling tinggi.
b. Domain Afektif Toto Ruhimat dkk (krathwohl dan kawan-kawan, 1964 ) mengemukakan “domain afektif memiliki tingkatan yaitu:Penerimaan,merespon,menghargai,mengorganisasi, karakterisasi nilai.” 1) Penerimaan adalah sikap kesadaran atau kepekaan seseorang terhadap gejala, kondisi, keadaan atau suatu masalah. 2) Merespon ditunjukan oleh kemauan untuk berpartisi aktif dalam kegiatan tertentu seperti kemauan untuk menyelesaikan tugas tepat pada waktunya, kemauan untuk mengikuti diskusi, kemauan untuk membantu orang lain dan sebagainya. 3) Menghargai adalah kemauan untuk memberi penilaian atau kepercayaan kepada gejala atau suatu objek tertentu. 4) Mengorganisasi adalah mengkonseptualisasi nilai yaitu memahami unsur –unsur abstrak dari suatu nilai yang telah dimiliki dengan nilai-nilai yang datang kemudian; serta mengorganisasi suatu sistem nilai, yaitu: mengembangkan suatu sistem nilai yang saling berhubungan yang konsisten dan bulat termasuk nilai-nilai yang lepas-lepas. 5) Karakterisasi adalah mengadakan sintesis dan internalisasi sistem nilai dengan pengkajian secara mendalam, sehingga nilai-nilai yang dibangunnya, itu dijadikan pandangan (fasafah) hidup serta dijadikan pedoman dalam bertindak dan berprilaku.
c. Domain psikomotor Domain psikomotor adalah tujuan yang berhubungan dengan kemampuan keterampilan atau skill seseorang. Ada tujuh tingkatan yang termasuk kedalam domain ini: 1) Persepsi(perception) merupakan kemampuan seseorang dalam memandang sesuatu yang dipermasahlakan 2) kesiapan (set) adalah kesediaan seseorang untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang di refleksikan dengan prilaku-prilaku khusus. 3) Meniru (imitation) adalah kemampuan seseorang dalam memperaktekkan gerakan-gerakan sesuai dengan contoh yang diamati 4) Membiasakan (Habitual) adalah kemampuan seseorang untuk memperaktekkan gerakan-gerakan tertentu tampa harus melihat contoh 5) Menyesuaikan (Adaption) kemampuan yang sudah disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sudah ditentukan 6) Menciptakan (Organization) kemampuan seseorang untuk berkreasi dan menciptakan sendiri suatu karya.
2. Komponen isi / Materi pelajaran Isi kurikulum merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa.
3. Komponen Metode / Strategi Startegi meliputi rencana, metode dan perangkat yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu.Toto Ruhimat dkk (T.Rakajoni) mengartikan strategi pembelajaran sebagai pola dan urutan umum dosen-mahasiswa dalam mewujudkan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Istilah lain yang juga dimiliki kemiripan dengan strategi adalah pendekatan (approac). Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran.Toto Ruhimat dkk (Roy kelli, 1998), mengemukakan bahwa “ ada dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada dosen dan pendekatan yang pusat pada maha siswa.Pendekatan berpusat pada dosen menurunkan strategi pembelajan langsung, pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa, menurut strategi pembelajaran discovery dan inkuiyi serta strategi pembelajaran induktif”.
4. komponen Evaluasi Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektifitas pencapaian tujuan. Evaluasi sebagai alat untuk melihat keberhasilan dapat dikelompokan kedalam dua jenis yaitu tes dan non tes. a. Tes 1) Kriteria tes sebagai evaluasi Sebagai alat ukur dalam prosese evaluasi, tes harus memiliki dua kriteria yaitu kriteria validitas dan reliabilitas. 2) Jenis-jenis tes Tes hasil belajar dapat dibedakan atas beberapa jenis. Berdasarkan jumlah perserta, tes hasil belajar dapat dibedakan menjadi tes kelompok dan tes individu. dilihat dari cara penyusunanya, tes juga dapat dibedakan menjadi tes buatan guru dan tes standar. b. Non tes Non tes adalah alat evaluasi yang biasanya digunakan untuk menilai aspek tingkat laku termasuk sikap, minat dan motivasi. Ada beberapa jenis non tes sebagai alat evaluasi, diantanya wawancara observasi, studi kasus, skala penilaian. 1) observasi adalah teknik penilaian dengan cara mengamati tingkah laku pada situasi tertentu. Ada dua jenis observasi yaitu observasi partisipatip dan non partisipatif. 2) Wawancara adalah komunikasi langsung antara yang diwawancarai dan yang mewawancarai.ada dua jenis wawancara yaitu wawancara langsung dan wawancara tidak langsung. 3) Studi kasus dilaksanakan untuk memepelajari individu dalam periode tertentu secara terus menerus. 4) Skala penilaan atau bisa disebut rating scale merupakan salah satu alat penilaian dengan menggunakan skala yang telah disusun dari ujung negative sampai dengan ujung positif, sehingga pada skala tersebut si penilai tinggal mebubuhi tanda ceklist.
Ditulis Oleh : Abdul Rohman (JPTM UPI Bandung 2008)

Senin, 16 Oktober 2017

Landasan dan Prinsip Pengembangan Kurikulum

1.                       Pengertian Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum adalah proses perencanaan dan penyusunan kurikulum oleh pengembang kurikulum (curriculum developer) dan kegiatan yang dilakukan agar kurikulum yang dihasilkan dapat menjadi bahan ajar dan acuan yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Kurikulum merupakan alat untuk mencapai pendidikan yang dinamis. Hal ini berarti bahwa kurikulum harus senantiasa dikembangkan dan disempurnakan agar sesuai dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengertian kurikulum yang semakin luas membuat para pelaksana kurikulum memberikan batasan sendiri terhadap kurikulum. Namun perbedaan pengertian tersebut tidak menjadi masalah yang besar terhadap pencapaian tujuan pendidikan, apabila pengembangan kurikulum didasarkan pada landasan dan prinsip-prinsip yang mendasarinya. Hal ini dimaksudkan agar pengembangan kurikulum yang dilaksanakan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari pendidikan nasional. Perwujudan prinsip, aspek dan konsep kurikulum terletak pada guru. Sehingga guru memiliki tanggung jawab terhadap tercapainya tujuan kurikulum itu sendiri.
Oleh sebab itu, seorang pelaksana kurikulum perlu mengetahui dan melaksanakan   beberapa landasan dan prinsip-prinsip menjadi pedoman dalam pengembangan kurikulum. Namum hal ini sering diabaikan oleh para pelaksana kurikulum, sehingga pencapaian tujuan pendidikan tidak optimal. Hal ini yang mendasari penulis untuk menyusun makalah ini. Makalah ini memaparkan apa yang menjadi landasan- landasan dan prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses pengembangan kurikulum.

1.      Landasan Pengembangan Kurikulum
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan yang kokoh dan kuat.
Dengan landasan yang kokoh kurikulum yang dihasilkan akan kuat, yaitu program pendidikan yang dihasilkan akan dapat menghasilkan manusia terdidik sesuai dengan hakikat kemanusiannya, baik untuk kehidupan masa kini maupun menyongsong kehidupan jauh ke masa yang akan datang.
Penggunaan landasan yang tepat dan kuat dalam mengembangkan kurikulum tidak hanya diperlukan oleh para penyusun kurikulum ditingkat pusat (makro), akan tetapi terutama harus dipahami dan dijadikan dasar pertimbangan oleh para pengembang kurikulum ditingkat operasional (satuan pendidikan), yaitu para guru, kepala sekolah, pengawas pendidikan (supervisor) dewan sekolah atau komite pendidikan dan para guru serta pihak-pihak lain yang terkait (stacke holder).
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang memiliki kedudukan cukup sentral dalam perkembangan pendidikan, oleh sebab itu dibutuhkan landasan yang kuat dalam pengembangan kurikulum agar pendidikan dapat menghasilkan manusia-manusia yang berkualitas. Adapun yang menjadi landasan dalam pengembangan kurikulum yaitu:
1.      Landasan Filosofis
Landasan Filosofis dalam pengembangan kurikulum, yaitu akan membahas dan mengidentifikasi landasan filsafat dan ilmplikasinya dalam mengembangkan kurikulum. Filsafat membahas segala permasalahan manusia, termasuk pendidikan, yang disebut filsafat pendidikan. Filsafatmemberikan arah dan metodologi terhadap praktik-praktik pendidikan, sedangkan praktik- praktik   pendidikan   memberikan   bahan-bahan   bagi pertimbangan filosofis. Keduanya sangat berkaitan erat. Hal inilah yang menyebabkan landasan filosofis menjadi landasan penting dalam pengembangan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum di Indonesia yang harus diacu adalah Filsafat pendidikan pancasila. Filsafat pendidikan dijadikan dasar dan arah sedangkan pelaksanaanya melalui pendidikan.
2.      Landasan Psikologis
Landasan Psikologis dalam pengembangan kurikulum, yaitu akan membahas dan mengidentifikasi landasan psikologis dan ilmplikasinya dalam mengembangkan kurikulum. Dalam proses pendidikan yang tejadi adalah proses interaksi antar individu. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya karena kondisi psikologisnya. Kondisi psikologis sebenarnya merupakan karakter psiko- fisik seseorang sebagai individu yang dinyatakan dalam berbagai bentuk perilaku interaksi dengan lingkungannya. Dalam pengembangan kurikulum, minimal ada dua landasan psikologi yang mempengaruhinya, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Terdapat Sembilan aspek psikologi yang kompleks tetapi satu yang dikembangkan dengan perantara berbagai mata pelajaran yang tercantum dalam kurikulum.
1.      Aspek Ketakwaan
2.      Aspek Cipta
3.      Aspek Rasa
4.      Aspek Karsa
5.      Aspek Karya (Kreatif)
6.      Aspek Karya (Keprigelan)
7.      Aspek Kesehatan
8.      Aspek Sosial
9.      Aspek Individu
10.  Landasan Sosial Budaya
Kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Dengan pendidikan diharapkan muncul masyarakat-masyarakat yang tidak asing dengan masyarakat. Dengan pendidikan diharapkan lahir manusia- manusia yangbermutu, mengerti, dan mampu membangun masyarakat. Oleh sebab itu tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan masyarakat.
4.      Landasan Yuridis
Kurikulum pada dasaranya adalah produk yuridis yang ditetapkan melalui keputusan menteri Pendidikan Nasional RI. Sebagai pengejawantahan dari kebijakan pendidikan yang ditetapkan oleh lembaga legislatif yang mestinya mendasarkan pada konstitusi/UUD. Dengan demikian landasan yuridis pengembangan kurikulum di NKRI ini adalah UUD 1945 (pembukaan alinia IV dan pasal 31), peraturan-peraturan perundangan seperti: UU tentang pendidikan (UU No.20 Tahun 2003), UU Otonomi Daerah, Surat Keputusan dari Menteri Pendidikan, Surat Keputusan dari Dirjen Dikti, peraturan-peraturan daerah dan sebagainya.

1.      PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM
Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum. Sedangkan Asep Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dalam pengembangan kurikulum, yaitu:
1.      Prinsip relevansi
Secara internal bahwa kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal bahwa komponen-komponen tersebutmemiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan dan potensi peserta didik (relevansi psikologis) serta tuntutan dan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosilogis).
2.      Prinsip Fleksibilitas
Dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar bekang peserta didik.
3.      Prinsip kontinuitas
Adanya kesinambungandalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
4.      Prinsip efisiensi
Mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum dapat mendayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat dan tepat sehingga hasilnya memadai.
5.      Prinsip efektivitas
Mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.



Daftar Pustaka

Dakir, H. 2004. Perencanaan Dan Pengembangan Kurikulum. Rineka Cipta. Jakarta.

Putra, Andra. 2014. Landasan dan Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum.http://andraputraa.blogspot.co.id/2014/03/landasan-dan-prinsip-prinsip.html. Diunduh pada tanggal 13 Oktober 2015.

Sudrajat, Akhmad. 2008. Prinsip Pengembangan Kurikulum. https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/prinsip-pengembangan-kurikulum/. Diunduh pada tanggal 13 Oktober 2015.




EVALUASI KURIKULUM KTSP DI SD NEGERI 144/II PASIRPUTIH KAB.BUNGO

Evaluasi KTSP penting dilaksanakan untuk mengetahui capaian program, pelaksanaan, pengawasan dan faktor pendukung penerapan KTSP. Penel...